Jumat, 17 Maret 2017

Perbandingan Negara Ideal menurut Plato dan Indonesia

Bismillah.
Negara menurut Plato adalah manusia dalam ukuran besar.

Hampir semua manusia yang berstatus anggota dari sebuah negara mendambakan sebuah negara yang Ideal, entah dari sisi keadilan, kesejahteraan, kebebasan dan lain sebagainya.
Namun dalam prakteknya, hampir semua negara dewasa ini, jauh dari kata Ideal. Faktor penyebabnya pun beragam, bisa dinilai cacat dari salah satu aspek (keadilan) atau bahkan dari segala aspek.
Sedangkan negara Indonesia tempat saya berdiri dari pangkuan ibu ini, mempraktekan Negara Demokrasi Parlementer. Demokrasi yang terdiri dari 3 pilar utama yakni : Exekutif, Legislatif, dan Yudikatif.
Namun dalam prakteknya masih saja ada penyimpangan, dan dinilai cacat yang membawa masyarakat pada komunikasi massa (demo), yang menurut saya sudah tidak efektif apalagi sampai afektif, karena objeknya (3 pilar tersebut) cenderung cuek/tidak peduli.

Jika bicara bentuk negara Ideal, maka salah satu bentuk Negara Ideal yang disusun oleh Plato ialah : Peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum -kata Plato- tidak boleh diputus oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan pengertian. (Alam pikiran Yunani, hal 109 cetakan 2006)
Sedangkan negara ideal harus berdasar pada keadilan. Plato menyebut dalam suatu soal-jawab, bahwa "keadilan adalah hubungan antara orang-orang yang bergantung kepada suatu organisasi sosial". Sebab itu masalah keadilan itu dapat dipelajari dari suatu struktur masyarakat. Oleh karena struktur manusia bergantung kepada kelakuan manusia, maka kelakuan manusia itulah yang harus dipatuhkan dengan pendidikan. Kita tidak dapat mengharapkan negara jadi baik, apabila orang-seorang kelakuanya tidak bertambah baik.
Keadilan dalam negara hanya tercapai, apabila tiap-tiap orang mengerjakan pekerjaan yang teruntuk bagi dia.
Keadilan bagi orang-seorang  terdapat, apabila sebagian dari jiwanya (yang berkuasa/yang mengabdi) berkerja sendiri-sendiri.(Alam pikiran Yunani, hal 110-111 cetakan 2006)
"Pembagian perkerjaan adalah dasar bagi Plato untuk mencapai perbaikan hidup".
Berhubung dengan pembagian perkerjaan itu Plato membagi penduduk negara dalam 3 golongan.
1. Golongan bawah ialah golongan rakyat jelata, yang berupakan tani, pekerja, tukang dan saudagar.
Mereka itu merupakan dasar ekonomi negara. Karena mereka menghasilkan, mereka tidak boleh serta dalam pemerintahan. Sebagai golongan yang berusaha mereka boleh mempunyai hak milik dan harta, boleh berumah tangga sendiri. Sekalipun mereka bebas berusaha, budi yang perlu dipelihara adalah budi pandai menguasai diri.

2. Golongan tengah ialah golongan penjaga atau "pembantu negara" dalam urusan negara. Terhadap keluar tugas mereka adalah menjaga negara dari serangan musuh. Terhadap kedalam adalah menjaga dan menjamin undang-undang dipatuhi oleh rakyat. semata-mata kerjanya hanya mengabdi untuk negara. Mereka tidak boleh mempunyai harta perseorangan atau keluarga. Mereka tinggal dalam asrama, hidup dalam sistem komunisme seluas-luasnya, meliputi perempuan dan anak-anak. Laki-laki dan perempuan mendapat pendidikan yang sama. Sebab itu juga seorang perempuan bisa menjadi penjaga dan ahli perang. Tiap orang laki-laki dianggap bapak, dan tiap perempuan dianggap ibu. Dengan begitu diharapkan timbul rasa persaudaraan yang kuat. Budi golongan ini adalah keberanian, Budi itu harus terdidik terus.

3. Golongan atas ialah kelas pemerintah atau filosof. Mereka terpilih dari yang palin cakap dan paling baik dari kelas penjaga, setelah menempuh pendidikan dan pelatihan khusus untuk itu. Tugas mereka adalah membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaanya. Mereka memangku jabatan tertinggi. Waktu luang digunakan untuk menggali pemahaman filosof dan ilmu tentang Idea kebaikan, yang menjadi puncak dalam ajaran Plato. Mereka perlu menyempurnakan budi yang tepat bagi golongan mereka. Budi golongan ini ialah Budi kebijaksanaan.

Itulah gambaran kecil negara Ideal dalam ajaran Plato, yang menurut saya terbalik (tidak tersusun) jika dibandingkan dengan kondisi negara Indonesia muda ini.

Gambaran susunan kependudukan di Indonesia jika dicocokan dengan pembagian negara Ideal menurut Plato, maka akan terlihat rancu. Dikarenakan dalam praktisnya, Golongan rendahlah (saudagar) yang menempati puncak pemerintahan. Karena uang masih menjadi tolak ukur utama dalam fokus penlihatan rakyat Indonesia, itulah mengapa si Kaya berkuasa dan disepakati oleh rakyat Indonesia. Maka tidaklah aneh dalam proses politik, uang memegang peran penting (fundamental) dalam proses tersebut. Bahkan bisa terucap "Politik uang ditolak dipermukaan, namun mengalir di dalam darah para pelaku politik. Mungkin inilah alasan mengapa Plato menempatkan golongan saudagar kedalam golongan bawah.
Sedangkan Golongan penjaga (komunisme), berada diposisi bawah. Dan dalam konsep negara Ideal Plato, komunisme hanya dalam kalangan penjaga yang jumlahnya kira-kira 5% dari seluruh penduduk. Namun kesalah pahaman pengertian komunisme sudah menjamur di Negara ini khususnya, bahkan ada yang bercita-cita ingin mengkomuniskan sebuah negara, yang menurut saya sebuah kenaifan yang terlalu dipaksakan. Karena dalam contoh praktisnya negara yang menganut paham komunisme, membuat rakyatnya seolah-olah seorang prajurit, yang berdampak kebekuan sosial (expresi) dalam keseharian. Dan salah satu syarat negara Demokrasi adalah adanya ruang bebas publik.
Dan terakhir golongan filosof, berada di golongan tengah. Mereka mempunyai kuasa namun terbatas. Bahkan banyak yang dengan mudahnya dipenjarakan bahkan ditentang karena kebijakanya untuk kepentingan bersama dianggap mengganggu beberapa pihak. Maka dari itu banyak orang yang kompenten pada bidang ini lebih memilih diam atau mengasingkan diri dan mulai menyerah terhadap negri ini.

Jika saya analogikan keadaan negara kita ini dengan ruang lingkup yang lebih kecil yaitu kampus saya, maka akan mengundang tawa, apabila Ibi salah satu tempat saya biasa ngopi menjadi pemerintah di Kampus saya, dan silahkan masukan golongan selanjutnya.

Maka dari itu mari kita tumbuhkan kesadaran bahwasanya dalam sebuah negara kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan orang-seorang, dan ikhlas berkorban dan berusaha untuk kepentingan negara kita tercinta ini.

Walahu 'alam bis shawab.
Assalamu'alaikum wr.wb.




"Tujuan pemeintah yang benar ialah mendidik warga-negara mempunyai budi". Plato

Hamba Allah.
Rahayu, Kab. Bandung.
18 Maret 2017

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar