Senin, 20 Februari 2017

Cahaya-Nya

Bismillah.

Suatu sore di Masjid Kampus tempatku mengembara, aku melaksanakan sholat. Suasana saat itu tenang seperti penggabungan Perpustakaan dan Pantai, angin dan suara berinteraksi beraturan, berharmoni. Pada saat assalamu'alaikum pertama, aku melihat papan putih dibalik kaca berwarna hitam Masjid itu. Dan pada saat assalamu'alaikum kedua, aku juga melihat papan putih itu yang dipantulkan oleh kaca berwarna hitam Masjid.
Setelah itu aku mulai berfikir seperti biasa, kali ini tentang yang orang biasa sebut Cahaya Illahi.
Jika cahaya Matahari bisa dipantulkan oleh benda-benda tertentu, maka Cahaya-Nya bisa dipantulkan oleh semua makhluknya. Lebih dari Matahari yang cahayanya bisa menembus ke hampaan ruang angkasa, maka Cahaya-Nya bisa menembus Blackhole yang terkenal dengan ke padatanya. Karena Dia adalah Al-Muhiit, Maha Meliputi.
Namun ada hati yang tidak mau tersentuh oleh Cahaya-Nya, mungkin karena hati itu sudah mati, walaupun sejatinya benda mati masih bisa memantulkan cahaya Matahari.
Mungkin selanjutnya saya akan memikirkan tentang sesuatu yang membuat hati tidak bisa menermia Cahaya-Nya.


Walahu 'alam bishawab.

Ihsanta Gitamaji Cholid Marzan

Bandung, 
21 Februari 2017

Say hai on my Twitter Hai Ceklek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar